Suara Dari Timur: Libatkan Anak Muda Menyusun Solusi Kesehatan

Oleh: Elizabeth Uru Ndaya, S.Pd.          

Forum Nasional Remaja dan Orang Muda Indonesia bertema Co-Create for Health (Jakarta,13–14/02/2026) merupakan inisiatif ChildFund International di Indonesia, untuk merancang bersama solusi kesehatan dengan mitra masyarakat. Penulis hadir sebagai utusan Sumba Integrated Development (SID), mitra kerja dari ChildFund, mewakili Forum Anak Muda se-Sumba Timur. Kegiatan ini mempertemukan remaja dan orang muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk membahas isu kesehatan remaja, khususnya kesehatan mental.

Pola perilaku yang teramati adalah rendahnya kebiasaan sarapan, tingginya konsumsi minuman manis, perubahan pola kerja malam dan tidur pagi, serta masalah kesehatan mental pada remaja di Indonesia yang layak mendapat perhatian serius. Data terbaru menunjukkan bahwa prevalensi depresi nasional pada 2023 sebesar 1,4%, dengan angka tertinggi pada kelompok usia 15–24 tahun yaitu sekitar 2%. Selain itu, laporan tahun 2025 menyoroti bahwa 61% anak muda dengan depresi pernah berpikir untuk mengakhiri hidup. WHO juga mencatat bahwa bunuh diri kini menjadi penyebab kematian ketiga terbesar pada kelompok usia 15–29 tahun di dunia. Hal ini memperlihatkan bahwa tingkat kesedihan remaja cukup tinggi dan berhubungan erat dengan tekanan hidup, stres emosional, serta kebiasaan sehari-hari yang kurang sehat.

Hal di atas menegaskan pentingnya intervensi kesehatan mental yang melibatkan suara anak muda agar solusi yang dihasilkan benar-benar relevan dan berkelanjutan. Mulai hari pertama, peserta tidak hanya mendengar materi, tetapi dilibatkan dalam diskusi dan proses berpikir. Forum diskusi menyatakan bahwa banyak remaja sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Permasalahan mereka seolah terpendam tak terlihat, ada banyak tekanan yang terjadi, seperti tertekan karena tuntutan sekolah, kurang didengar di rumah, bahkan mengalami perundungan.

Isu kesehatan mental di Sumba Timur, masih belum mendapat banyak perhatian, bahkan kadang disalahpahami. Melalui forum ini, peserta belajar bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik, dan setiap remaja berhak mendapatkan ruang aman untuk bercerita. Dalam sesi design thinking, peserta dibagi dalam kelompok kecil dan diminta benar-benar berempati sebelum mencari solusi. Peserta mulai mendengarkan cerita satu sama lain, lalu mencoba mengidentifikasi akar masalah. Ternyata, di balik stres dan depresi, ada banyak faktor penyebab, seperti kurangnya dukungan, stigma, dan keterbatasan akses layanan. Dari proses tersebut dapat disimpulkan bahwa solusi tidak bisa instan, untuk itu peserta bersama-sama merancang ide solusi yang realistis dan bisa diterapkan di daerah masing-masing.

Isu kesehatan mental jangan dianggap tabu dan harus lebih terbuka dibicarakan. Kampanye publik dan forum remaja-anak muda akan meningkatkan kesadaran dengan pendekatan yang lebih inklusif dan relevan. Platform kesehatan mental berbasis digital memungkinkan remaja dan anak muda mengakses konseling secara anonim dan lebih mudah. Penulis pulang tidak hanya membawa pengalaman, tetapi juga tanggung jawab agar semakin banyak remaja-anak muda Sumba Timur sadar pentingnya menjaga kesehatan mental dan berani mencari bantuan. Terus jaga kesehatan fisik dan mental kita! ***


Komentar