Oleh: Stube HEMAT Yogyakarta.
Kawara Panamung adalah sebuah komunitas perempuan dari desa Nggaha Ori Angu, Sumba Timur. Komunitas ini dipimpin seorang aktivis perempuan bernama Elisabeth Uru Ndaya, yang berprofesi sebagai guru di SMP Negeri 1, Nggaha Ori Angu. Elyzz sebagaimana biasa dipanggil, mengampu mata pelajaran Bahasa Inggris. Selain itu dia juga mengampu laboratorium digital yang dimiliki sekolah itu. Sebagai alumni Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa – Yogyakarta, sekaligus aktivis di Lembaga Stube HEMAT Yogyakarta, dia memiliki banyak pengalaman organisasi dan memahami persoalan sosial yang terjadi dalam masyarakat. Setelah menyelesaikan studi, Elyzz pulang ke Sumba untuk berkiprah mendedikasikan dirinya kepada dunia pendidikan baik formal maupun informal.
Mengawali kiprahnya, Elyzz membentuk
komunitas Kawara Panamung (saling merangkul/menopang), yang mewadahi
perempuan-perempuan desa belajar tenun dari nol, karena tidak memiliki latar
belakang penenun. Proses demi proses dilalui sampai akhirnya mereka memiliki
ketrampilan menenun dengan motif-motif Sumba. Di tengah proses itu, tak
lupa Elyzz memberi tambahan wawasan kepada anggota komunitas sebagai usaha
pemberdayaan perempuan. Tidak puas dengan ketrampilan tenun, Elyzz merambah
dunia audio visual untuk mengangkat dan menyuarakan masalah-masalah sosial
kemasyarakatan yang ada.
Kawara Panamung memiliki satu keyakinan bahwa perubahan tidak harus dimulai dari kekuatan besar, tetapi dari keberanian untuk saling merangkul dan bahu membahu. Mereka memilih untuk tidak hanya menjadi penonton atas persoalan di sekitar mereka. Dengan kamera HP sederhana di tangan, mereka mengubah cara dunia melihat Sumba, dan cara Sumba melihat dirinya sendiri dengan menyajikan realitas, mengangkat suara yang terlupakan. Karya-karyanya berupa video dokumenter seni budaya dan film-film pendek. Itu semua lahir dari kesadaran bahwa banyak cerita tentang Sumba hanya menampilkan keindahan alamnya, padahal di balik itu, ada kehidupan yang penuh perjuangan. Perempuan yang memikul beban ganda, anak-anak yang berjuang untuk pendidikan, masyarakat adat yang mempertahankan tanah dan tradisi, juga potensi alam dan budaya yang belum dikelola secara adil, sangat perlu direkam. Mereka tidak hanya memotret, tetapi menghadirkan kembali martabat orang-orang yang selama ini jarang mendapat ruang bicara.
Surat dari Masa Lalu, karya film pendek pertama komunitas ini, menjadi penyemangat memproduksi karya-karya selanjutnya. Aku Hanya Ingin Sekolah berhasil menyabet juara pertama pada Lomba Kesenian Nasional dengan tema bebas Tingkat SMP/MTS, disusul Buku dari Bukit, berhasil menembus peringkat ke-7 festival film pendek nasional 2025. Satu Buku Seribu Harapan berhasil menjadi juara ke-2 dalam Lomba Video Konten Literasi Propinsi NTT. Raihan prestasi ini mendapat perhatian beberapa instansi seperti Dinas Pendidikan, Dinas Kearsipan dan Perpustakaan NTT, juga Kementerian Desa. Tawaran-tawaran pelatihan dan pembekalan sudah diikuti Elyzz untuk mengasah skills dan melahirkan karya-karya berbobot lewat tangan dinginnya. Sampai saat ini tercatat sudah ada 133 video tayang di YouTube, dengan 2.14K viewer.
Bagi Kawara Panamung, kamera adalah senjata yang paling damai sekaligus paling tajam. Melalui film, mereka bertanya: Siapa yang didengar? Siapa yang diabaikan? Siapa yang diuntungkan? Siapa yang tertinggal? Mereka tidak menyerang, tetapi menampilkan gambar-gambar yang jujur untuk berdialog dan membuka mata. Kamera menjadi alat untuk mengungkap ketidakadilan, merayakan kekuatan perempuan, dan menegaskan bahwa perubahan bisa lahir dari tangan-tangan yang bekerjasama. Kamera dapat menjadi alat pembebasan—merekam kenyataan, menantang ketidakadilan, dan menyalakan harapan. Kawara Panamung mengingatkan kita bahwa ketika perempuan saling merangkul dan bahu membahu, mereka tidak hanya merekam dunia. Mereka mengubahnya.***
Link terkait:
https://www.youtube.com/watch?v=SwN0AQyhpMY
https://www.facebook.com/share/r/16VjLZXEC9/
https://www.youtube.com/watch?v=9MRMQloZRYI





Komentar
Posting Komentar